Pada tanggal 3 Desember 2011 yang lalu, saya berkunjung ke pameran buku (Indonesia Book Fair) yang diselenggarakan oleh IKAPI dan Perpustakaan Nasional di Istora Senayan. Setelah tiba disana, saya iseng membaca jadwal acara yang terpampang di dekat pintu masuk dan ternyata ada launching komunitas Ayo Dongeng Indonesia. Karena tertarik, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti acara tersebut terlebih dahulu sebelum berkeliling untuk mencari buku.
ketika saya tiba di ruangan tempat acara berlangsung, ternyata peserta yang akan mengikuti acara ini masih sedikit sehingga acara tidak berlangsung tepat waktu sesuai dengan jadwal yang dibagikan pada saat saya registrasi. Beberapa peserta yang hadir adalah pasangan muda yang membawa anak balita. Sama seperti saya, mereka pasti tertarik dengan judul acara ini karena mungkin mereka penasaran kegiatan apa yang akan dilakukan disini. Apakah kami akan diajarkan teknik atau cara mendongeng yang baik sehingga anak-anak menjadi tertarik untuk mendengarkannya.
2 Komentar..




Sri Andayani (1997) melakukan penelitian terhadap beberapa film kartun Jepang, seperti Sailor Moon, Dragon Ball dan Magic Knight Ray Earth. Ia menemukan bahwa film tersebut banyak mengandung adegan antisosial (58,4 %) dari pada adegan prososial (41,6 %). Hal ini sungguh ironis, karena film tersebut bertemakan kepahlawanan. Studi ini menemukan bahwa kategori perlakuan antisosial yang paling sering muncul berturut-turut adalah berkata kasar (38,56 %), mencelakakan (28,46 %), dan pengejekan (11,44 %). Sementara itu kategori prososial, perilaku yang kerapkali muncul adalah kehangatan (17,16 %), kesopanan (16,05 %), empati (13,43 %) dan nasihat (13,06 %).
Game dengan berbagai variasinya telah menjadi jenis permainan baru, tidak hanya bagi anak-anak kota namun juga bagi anak-anak kampung. Tidak jarang permainan ini menjadikan anak-anak terlena, bahkan kecanduan. Orang tua khususnya ibu-ibu merasa kebingungan dan kewalahan menghadapi anak-anaknya yang mulai kecanduan dengan game. Rasanya tidak bijak jika kita melarang mereka dari bermain game, namun membiarkan mereka bermain game tanpa kontrol merupakan tindakan yang lebih tidak bijak lagi.
Sejarah Singkat
Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941, dari V.en.V oleh Opsiter Wiese di kutip dari BIJDRAGENTOT DE GEOGRAPHE dari Chep Van den topographeschen dien in Nederlandsch Indie : Den 31 Sten Maart 1928 telah datang di Pontianak, satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geographie berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak, dengan konstruksi sebagai berikut :


