Cerita Anak : "Tersesat Di Hutan"

E-mail Cetak PDF

tersesat d hutan“Ayo Sinta cepat habiskan makananmu karena kamu harus membantu ibu mencari kayu di pinggir hutan,” kata ibuku suatu pagi.

“Jangan hari ini ya bu karena aku mau ke rumah Maya untuk mengerjakan PR matematika,” jawabku. “Lagipula kan ada mas Seno yang bisa membantu ibu.”

“Persediaan kayu bakar kita hanya tersisa untuk masak hari ini, kalau tidak mencari sekarang besok kita masak pakai apa?” ibu memberi penjelasan.

“Hari ini bapak ada pertemuan di Balai Desa sedangkan mas Seno harus memperbaiki kandang ayam yang rusak,” jawab bapakku yang tiba-tiba sudah ada disampingku. “Mbak Yanti sendiri harus membersihkan rumah dan menjaga kedua adikmu.”

Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Mbak Yanti adalah anak pertama, sekarang dia duduk di kelas 6 SD sedangkan mas Seno di kelas 5. Aku sendiri masih kelas 3 SD dan kedua adikku Tono dan Tini baru berusia 4 tahun, mereka adalah anak kembar. Bapakku seorang guru SD dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Sejak kecil kami sudah biasa membantu pekerjaan orang tua kami. Kami harus mencari kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak dan apabila kayu yang kami peroleh sangat banyak, ibu akan menjualnya ke pasar. Selain itu, kami juga menjual hasil kebun dan ternak ayam. Kami harus mencari uang tambahan karena penghasilan bapakku sebagai guru SD tidak mampu mencukupi kehidupan kami apalagi kami termasuk keluarga besar.

“Jangan lupa membawa bekal makan siang,” ibu mencoba mengingatkanku.

“Iya bu, bekalnya sudah disiapkan oleh mbak Yanti kok,” aku menjawab sambil memberikannya pada ibuku. Setelah memasukkan bekal yang kuberikan kemudian ibu berpamitan kepada bapak. “Ibu pergi dulu ya pak.”

“Hati-hati ya bu,” jawab bapak. “Jangan pulang terlalu sore, yang penting kita punya persediaan untuk memasak.”

Meski harus bekerja keras, ibu tidak pernah mengeluh. Beliau dengan sabar selalu berusaha melakukan tugasnya di rumah dengan baik. Apabila bapak tidak bisa mencari kayu bakar, ibu mau membantu mencarinya meskipun itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Kayu yang sudah terkumpul harus diikat dengan kuat agar nantinya tidak terlepas ketika di bawa.

“Lihat bu, banyak sekali daun singkongnya,” aku menunjuk kearah rimbunnya dedaunan didepanku.

“Kalau begitu kamu mengumpulkan daun singkong saja, nanti bisa kita masak dan dijual ke pasar,” jawab ibuku. “Kamu jangan jauh-jauh dari ibu ya.”

“Baik bu,” aku mengganggukkan kepala dan segera mulai memetiknya.

Di dekat pinggiran hutan itu tinggal pak Bakir yang memiliki kebun singkong. Setelah panen, biasanya dia membuang batang singkong itu di pinggir hutan. Tanah di daerah ku sangat subur sehingga meski tanpa di tanam, batang tersebut tumbuh dengan subur.

“Wah...ucennya banyak sekali,” kataku dalam hati. Kak Yanti pasti senang kalau aku bawakan buah ucen ini. Kemudian aku memetik daun yang berukuran besar sebagai tempat untuk membungkus ucen yang kupetik. Sambil membawa daun singkong yang sudah kuikat dan kugendong dipunggungku, aku pun mulai memetik ucen-ucen itu dan sesekali memakannya. Ucen adalah nama buah yang tumbuh liar. Warna dan bentuknya mirip strawberry, rasanya manis meski tak selezat buah strawberry.

Tak terasa aku sudah mengumpulkan banyak sekali ucen dan daun singkong sehingga aku mulai merasa lelah. Aku menaruh bawaanku di bawah sebuah pohon besar untuk beristirahat namun tak lama kemudian aku tertidur disana karena sudah tidak bisa menahan rasa lelah dan kantukku.

***

Ketika sedang mimpi indah tiba-tiba tidurku terganggu oleh tetesan air yang menerpa wajahku. Perlahan-lahan aku membuka dan mengusap-usap mataku kemudian melihat keadaan disekelilingku. Langit terlihat gelap tertutup awan hitam dan gerimis mulai membasahi tanah. Aku kaget sekali karena hanya sendirian tanpa ibu. “Ibu dimana ya?” tanyaku dalam hati. Dengan tergesa-gesa aku segera membereskan bawaanku dan mulai berjalan mencari ibu namun keadaan yang agak berkabut membuatku tidak dapat melihat dengan jelas. Aku juga tidak dapat mengingat jalan yang kulalui tadi karena memang aku tidak memperhatikannya ketika sedang memetik ucen. Belum lama berjalan, akhirnya aku harus berteduh lagi di bawah pohon yang agak rindang karena hujan mulai deras sehingga jalanan menjadi becek dan licin, lebih baik aku berteduh dahulu agar tidak tergelincir. Tubuhku mulai menggigil kedinginan karena diterpa air hujan dan dihempas angin, aku mendekap erat daun singkong yang kubawa dengan harapan badanku sedikit terasa hangat. Selain itu perutku mulai merasa lapar. Aku belum makan sejak tadi siang karena bekal makan siang kami dibawa oleh ibuku. Sambil menahan rasa dingin dan lapar, aku jadi teringat cerita bapak bahwa binatang-binatang hutan mulai keluar dari sarangnya untuk mencari makan pada malam hari.

“Jangan-jangan aku akan menjadi makanan harimau atau digigit ular,” kataku dalam hati. Daun-daun yang melambai-lambai tertiup angin dan suara-suara yang terdengar aneh membuat suasana semakin menyeramkan, aku memejamkan mata karena tidak berani melihatnya. Aku sangat takut sekali karena hal ini belum pernah terjadi padaku sebelumnya, aku bingung tak tahu harus berbuat apa dan akhirnya aku mulai menangis tersedu-sedu meratapi nasibku ini. Dalam keadaan takut dan bingung itu tiba-tiba sepertinya aku mendengar suara ibu yang mengatakan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya asalkan kita mau berusaha mencarinya dan tidak lupa berdoa memohon pertolongan ALLAH SWT.

Aku pun akhirnya memutuskan untuk berdoa di dalam hati, ”Ya ALLAH SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tolonglah hamba-Mu yang sedang kesulitan ini. Apabila masih diberi kesempatan, aku ingin pulang dan kembali berkumpul dengan keluargaku.” Aku berdoa dengan khusyuk dengan harapan doaku akan dikabulkan sehingga dapat pulang dengan selamat.

Hujan mulai reda dan perlahan-lahan sinar bulan menerangi bumi karena awan sudah tidak menutupinya lagi. Dengan bantuan sinar bulan itu aku mulai berjalan lagi berusaha mencari jalan pulang. Samar-samar terlihat cahaya terang menyerupai bola api yang terbang melayang diikuti sesosok bayangan hitam yang terlihat begitu menyeramkan. Aku pun segera bersembunyi di balik pohon agar tidak terlihat oleh bayangan hitam itu.

“Siapakah dia? Apakah pemburu jahat yang suka menangkap dan menjual hewan-hewan yang ada dihutan atau jangan-jangan bayangan itu adalah nenek sihir yang suka menangkap anak kecil yang tersesat di dalam hutan?” pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepalaku. Jantungku berdetak kencang dan lututku menjadi gemetaran karena takut apa yang kupikirkan tadi benar-benar terjadi. Aku takut sekali kalau nenek sihir itu berhasil menangkapku dan mengurungku dirumahnya seperti cerita yang pernah aku baca dibuku. Aku ingin berlari sekencang-kencangnya namun kaki ku tidak bisa digerakkan dan tubuhku terasa membeku. Apakah aku sudah terkena sihir sehingga tidak bisa bergerak. Kalau aku tidak bisa bergerak berarti nenek sihir itu bisa dengan mudah menangkapku. “Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?” aku mulai berpikir agar bisa meloloskan diri.

Tiba-tiba terdengar suara yang sudah kukenal dengan baik memanggil namaku, “Sinta...kamu di mana nak, ini bapak datang menjemput kamu.”

“Iya benar, itu suara bapak,” seruku dalam hati. Setelah mendengar suara bapakku dan perasaanku mulai tenang, perlahan-lahan tubuhku dapat digerakkan lagi. Ternyata tubuhku menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan karena tadi aku merasa sangat ketakutan. Akhirnya sosok bayangan hitam tadi mulai dapat kulihat dengan jelas, aku pun segera berlari dan berteriak memanggil bapakku kemudian memeluknya erat-erat. Aku sangat bersyukur sekali karena bisa bertemu lagi dengan keluargaku dan sesampainya di rumah aku makan dengan lahap. “terima kasih ya ALLAH SWT karena telah mengabulkan doaku. Aku akan mengingat kejadian ini supaya tidak berbuat ceroboh lagi.

Komentar

avatar noenu
0
 
 
Pertamax neh.. nice story sobat. :)
B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Nama *
Email (tidak ditampilkan)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Kirim Komentar
Batal
Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar