AJARKAN ANAK ANDA MERAPIHKAN BARANG SEJAK KECIL

E-mail Cetak PDF

Memiliki anak berusia balita (bawah lima tahun) biasanya identik dengan rumah yang berantakan karena anak-anak pada usia tersebut sedang berada pada masa pertumbuhan dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Barang apapun tidak ada yang terlewat dari pengamatan dan tangannya yang iseng membongkar barang-barang yang ada. Mungkin anda pernah mendengar atau mengalami sendiri, handphone atau gadget kesayangan anda dimasukkan ke dalam air atau pun dibanting oleh buah hati anda...menggemaskan sekali bukan hehehehe

Pada tulisan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman ketika mengajarkan Endry membereskan mainannya sejak dia berusia 1 tahun atau ketika dia sudah berjalan (Endry sudah bisa berjalan sejak usia sekitar 11 bulan 14 hari). Mengapa saya mengajarkan Endry untuk membereskan mainannya sendiri? Jawabannya karena ibu saya sangat perfeksionis, beliau selalu menjaga kebersihan dan kerapihan rumah, maklum saja karena beliau seorang ibu rumah tangga jadi selalu berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Selain itu, beliau tidak pernah cocok menggunakan jasa asisten rumah tangga (ART) sehingga supaya tidak menambah beban pekerjaan rumahnya sejak kecil Endry sudah saya ajarkan untuk membereskan mainannya sendiri.

Hal dasar yang saya yakini adalah meskipun bayi ataupun anak-anak kecil belum bisa bicara atau belum menguasai banyak kosa kata namun sebenarnya mereka mengetahui atau memahami apa yang kita bicara atau perintahkan terlebih lagi apabila diberikan contoh juga. Jadi, ketika Endry sedang bermain dengan salah satu mainannya dan ingin mengambil mainan yang lain, saya akan memintanya untuk merapihkan mainan sebelumnya yang sudah tidak digunakan. Ini saya lakukan supaya rumah tidak terlalu kelihatan berantakan karena mainan yang bergeletakan dilantai. Selain itu, apabila mainan langsung diletakkan pada tempat penyimpanannya, Endry tidak akan kesulitan mencari mainannya jika ingin dia mainkan kembali.

 

Begitu juga ketika ada anak-anak tetangga yang sedang bermain, saya akan membatasi jumlah mainan yang akan digunakan oleh mereka. Bukannya pelit tetapi jika terlalu banyak mainan yang dikeluarkan, selain rumah menjadi berantakan, saya khawatir akan ada mainan Endry yang rusak, terselip atau hilang karena dimainkan anak lain.

Kebanyakan anak kecil belum bisa menghargai barang terutama mainannya. Mereka senang melempar atau membanting mainannya terlebih lagi jika sedang bermain bersama teman-temannya karena jika salah satu anak melempar atau membanting mainan maka akan diikuti oleh anak yang lain. Semakin banyak anak kecil maka akan semakin ramai dan banyak permintaan macam-macam dari anak-anak tersebut. Kebetulan Endry punya bermacam-macam mainan sehingga setiap anak menginginkan mainan yang berbeda. Jika itu terjadi, saya akan membatasi mainan yang akan dikeluarkan. Saya hanya akan mengeluarkan mainan yang dapat dimainkan bersama-sama.

Jika sudah waktunya Endry tidur maka anak-anak tersebut akan saya minta untuk pulang. Ketika mereka diberitahu untuk pulang, otomatis mereka langsung berlarian keluar rumah dan meninggalkan mainannya tergeletak begitu saja. Kalau sudah demikian maka Endry akan saya minta untuk membereskan dan merapihkan mainan-mainan tadi. Pada awalnya Endry mau saja saya minta untuk merapihkannya namun lama kelamaan seiring bertambahnya kemampuan berfikirnya, akhirnya Endry mulai protes karena harus membereskan mainan sendiri padahal mainan tersebut dimainkan secara bersama-sama. Ibu saya bilang Endry (dengan logat cadelnya) sering mengatakan “temen-temen reseh, ga mau beres-beres”.

Sekarang Endry sudah jarang mengajak teman-temannya untuk bermain dirumah. Selain karena harus membereskan mainan sendirian tetapi juga karena ada mainannya yang dirusak oleh temannya karena rebutan. Saya sih senang saja karena rumah jadi tidak berantakan namun sekaligus khawatir kalau nanti Endry tidak punya teman bermain. Supaya tetap memiliki teman bermain, Endry saya masukkan ke TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang ada di Mushalla perumahan saya. Selain itu, Januari 2016 kemarin saya masukkan ke Bimba AIUEO.

Sebenarnya saya masih berat memasukkan Endry ke Bimba AIUEO karena saya fikir lebih baik Endry banyak bermain dari pada harus belajar di sekolah. Namun karena pertimbangan supaya Endry bisa punya teman, akhirnya saya masukkan juga ke Bimba AIUEO. Meskipun sudah dimasukkan ke sekolah ternyata tidak membuat Endry menjadi “gaul” hahahaha karena setiap saya tanya nama teman-temannya siapa, dia tidak tahu.

Berikut hal-hal yang bisa dilakukan agar anak-anak mau merapihkan mainannya menurut versi saya :

1. Siapkan tempat khusus untuk meletakkan atau menyimpan mainannya seperti lemari, box atau kotak plastik atau apapun yang masih terjangkau oleh anak anda. Pada awalnya memang sulit dan harus berulang-ulang untuk diingatkan namun kalau kita sabar dan selalu memberi contoh atau “sedikit” membantu ketika mereka sedang merapihkan mainannya maka lama kelamaan anak akan mau merapihkan sendiri mainannya dan meletakkan pada tempatnya. Menurut saya, merapihkan mainan juga dapat melatih tangannya karena ada beberapa mainan yang harus dimasukkan kedalam plastik atau menyusunnya didalam wadah.

2. Kelompokkan mainan-mainan tersebut berdasarkan jenis atau fungsinya misal mainan alat musik, mobil-mobilan, boneka dan lain-lain sehingga anak akan mudah mencari mainan yang diinginkan ketika akan memainkannya.

3. Jelaskan pada anak bahwa merapihkan mainan dan meletakkan pada tempatnya memiliki banyak manfaat seperti mainan tidak akan cepat rusak karena tersimpan dengan baik. Apabila mainan tergeletak begitu saja dilantai, ada kemungkinan tidak sengaja terinjak oleh orang lain sehingga akan merusak mainan tersebut. Manfaat lainnya adalah anak tidak akan kesulitan mencari mainannya ketika akan memainkannya karena sudah tersusun ditempat penyimpanan. Ini juga berfungsi untuk mengetahui apakah ada mainan yang hilang atau tidak, secara tidak langsung kita mengajarkan anak untuk bertanggung jawab menjaga barang miliknya.

4. Jangan pernah membelikan mainan baru apabila anak tidak mau merapihkan mainannya. Untuk poin ini, kita harus bisa bernegosiasi dengan anak sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Hal ini butuh konsistensi dan kekompakkan dari orang tua. Ketika bunda mengatakan tidak akan membelikan mainan maka apapun yang terjadi ayah juga tidak boleh membelikan mainan, jadi semacam reward and punishment.

Selamat mencoba :)

 

Komentar

Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar Please login to post comments or replies.