KAMU PILIH MANA : MEMBERI UANG PADA PENGEMIS ATAU TIDAK?

E-mail Cetak PDF

Sebenarnya tema tentang pengemis jalanan sudah beberapa tahun yang lalu ingin saya bahas namun karena belum ada mood untuk menulis jadi masih tetap tersimpan dalam pikiran saja. Kali ini saya berusaha meluangkan waktu untuk menulisnya.

Jadi, adanya penyesuaian jam kerja selama Ramadhan membuat saya bisa tiba dirumah lebih cepat dari hari biasa. Selain itu, jadwal acara di televisi pun mengikuti tema puasa. Kalau biasanya ketika tiba di rumah ibu saya sedang menonton Uttaran yang membuat ketagihan, kali ini setiap berbuka puasa saya bisa menonton acara Hitam Putih yang kebanyakan temanya sangat menginspirasi.

Nah semalam acara ini mengundang bintang tamu seorang kakek yang berumur 84 tahun namun masih bekerja dengan menjual tas dan sarung bantal dari karung goni disekitar pasar Beringharjo Yogyakarta. Di usianya yang sudah lanjut, beliau tetap mencari nafkah meskipun ke empat anaknya sudah bekerja semua. Beliau bilang kalau tidak bekerja, otak bisa rusak karena memikirkan hal-hal jahat...dalam hati saya berkata WOW.

 

Karena kata-kata beliau itu lah saya jadi teringat dengan tema tulisan saya tentang pengemis yang baru sekarang akan saya tulis hehehehe... Mungkin diantara kita sudah mengetahui bahwa ada sebuah desa yang bernama kampung pengemis karena semua penduduknya “berprofesi atau mendapat penghasilan” sebagai pengemis. Beberapa hari sebelumnya juga saya sempat menonton youtube tentang seorang pengemis yang memiliki rumah mewah dan juga seorang anak muda yang mengemis dan memiliki tabungan sekitar 20 juta hahahaha isi tabungan saya saja tidak sampai segitu.

Dulu saya juga sempat membaca tulisan sebuah lelucon tentang pengemis dan polisi dimana awalnya si polisi merasa kasihan dengan si pengemis namun ternyata si pengemis bercerita panjang lebar bahwa penghasilannya sangatlah besar, bahkan lebih besar dari gaji seorang pekerja kantoran. Oke lah mungkin itu hanya sebuah lelucon karena tidak semua pengemis itu kaya, memiliki rumah mewah ataupun uang banyak. Namun jika kita lihat perjuangan kakek tadi yang masih mau bekerja, menurut saya banyak hal yang bisa manusia lakukan atau kerjakan untuk mendapat uang tanpa harus mengemis.

Saya pernah beberapa kali melihat seorang tunanetra berjualan kerupuk berkeliling dengan tongkatnya. Ada juga seorang ibu tunanetra membawa serta kedua anaknya untuk berjualan kerupuk tersebut. Seorang anaknya yang sudah agak besar mungkin sekitar usia SD berjalan mendampingi ibunya yang sedang mengendong adiknya yang masih kecil serta membawa dagangannya. Bisakah anda bayangkan bagaimana kondisinya, bahkan sekalipun ibu tersebut tidak dapat melihat namun dia tetap berusaha untuk mencari uang dengan cara berjualan padahal belum tentu barang dagangannya itu selalu habis terjual setiap hari. Meskipun sudah berjalan keliling kesana kemari, belum tentu hasil dagangannya tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya terlebih dia memiliki 2 anak yang masih kecil.

Lalu mengapa sampai ada orang yang sehat secara fisik namun menjadi pengemis? Pasti anda akan menjawab karena orang tersebut pemalas. Kalau kita melihat contoh diatas memang dapat dipastikan pengemis adalah seorang pemalas yang ingin memperoleh uang banyak dengan cepat tanpa harus bersusah payah. Jika dia berjualan, keuntungan yang didapat tidaklah terlalu banyak dan belum tentu barang dagangannya selalu habis terjual padahal dia sudah berjalan jauh dan selalu ngoceh ini itu untuk menawarkan dagangannya. Jika dia bekerja sebagai buruh atau pembantu rumah tangga, harus siap dimarahi atau mengikuti aturan yang berlaku di perusahaan atau di rumah tempat dia bekerja dan terikat waktu kerja. Belum lagi jika owner nya sangat pelit hehehehe sudah capek-capek bekerja tapi uang yang didapat tidak banyak plus kena caci maki jika tidak bekerja baik.

Jika anda jadi pengemis, anda tinggal duduk di tempat keramaian dengan wajah memelas, pakaian dekil, compang camping dan mungkin sedikit aksesoris perban plus obat merah untuk menggambarkan betapa menderitanya hidup anda sehingga orang yang melihat akan menjadi iba dan kasihan lalu memberikan beberapa lembar uang ataupun recehan.

Pertanyaan yang ingin saya lontarkan adalah benarkah tindakan orang yang memberi uang kepada pengemis? Mungkin beberapa dari anda akan menjawab ini kan uang saya sendiri, terserah akan saya berikan kepada siapa. Baiklah itu memang uang anda dan tidak salah juga mau anda berikan kepada siapa tapi bukankah itu hanya akan membuat para pengemis menjadi seorang yang lebih pemalas? Tidakkah anda sadar kalau anda ditipu oleh acting mereka?

Lalu bagaimana dengan pengemis anak-anak, apakah kita tega membiarkan mereka kelaparan?

Saya jadi teringat ketika saya masih kuliah, saat itu saya sedang mencari buku di tempat penjualan buku-buku bekas. Kebetulan saya menoleh dan melihat seorang anak sedang makan es krim. Tidak lama kemudian, anak tersebut mendekati saya dengan menjulurkan tangannya sambil berkata “kasian kak, belum makan dari kemarin” dengan wajah memelasnya. Seandainya saja tadi saya tidak melihat dia sedang memegang es krim, sudah pasti anak tersebut saya beri uang karena kasihan. Saya hanya berkata “kalau belum makan dari kemarin, kenapa malah makan es krim”, mendengar jawaban saya itu dia hanya nyengir lalu pergi.

Berita tentang eksploitasi anak memang kerap kali kita lihat dan dengar, dan bukan rahasia lagi jika anak-anak yang mengemis atau mengamen di jalanan “menyetor” sejumlah uang kepada koordinator atau bahkan orang tuanya sendiri. Jika tidak dapat menyetor uang dengan jumlah yang sesuai, bukan tidak mungkin anak tersebut di pukuli, dimarahi dan dianggap pemalas karena tidak mendapat uang banyak. Miris sekali melihat anak-anak sekecil itu dirusak mentalnya oleh orang dewasa yang bermental pemalas. Dan bukan tidak mungkin karena terbiasa melakukan itu maka menjadi pengemis adalah pilihan hidupnya ketika dia dewasa dan akan menerapkan juga pada anak-anaknya seperti siklus yang tiada akhir.

Lalu bagaimana kita menyikapi jika menghadapi anak yang mengemis atau mengamen dijalanan?

Pernah juga dulu saya membaca atau melihat di televisi ada perempuan yang memulai gerakan memberi makanan misal biskuit atau susu kepada anak jalanan. Alasannya sederhana, jika di beri uang belum tentu uang tersebut dia simpan sendiri namun jika di beri makanan atau susu bisa dia makan sendiri, dia bisa kenyang dan lebih sehat. Nah, orang tersebut berusaha setiap kali pergi selalu membawa makanan ataupun susu sehingga ketika dia melihat anak jalanan, dia akan memberikan makanan tersebut kepada mereka.

Saya pribadi sih belum pernah melakukan hal tersebut hanya saja saya jadi berfikir ulang jika ingin memberikan uang kepada pengemis. (Bukan bermaksud pamer) tapi saya lebih baik membantu orang yang mau bekerja misalnya membeli barang dagangan dari kakek atau nenek yang berjualan meskipun barang tersebut belum tentu saya gunakan toh bisa di berikan kepada orang lain lagi. Atau memberikan baju bekas layak pakai untuk orang yang membutuhkan.

Di tempat saya tinggal, ada anak perempuan yang sering mengumpulkan botol plastik minuman mineral, karena dia mau bekerja untuk biaya sekolah maka saya sekeluarga sering menyimpan gelas dan botol aqua untuk dikumpulkan dan diberikan pada anak itu, mengumpulkan koran-koran bekas yang ada dikantor dan sesekali memberinya uang. Maka dari itu menurut saya, jika ingin menolong orang lain lebih baik menolong orang yang berada di sekeliling kita dahulu terutama orang yang sudah bekerja keras namun penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kalaupun ingin membantu anak jalanan, tidak ada salahnya jika kita memberi makanan dan minuman karena itu lebih berguna bagi mereka.

Apapun cara kita membantu orang, utamakan membantu orang yang benar-benar sudah berusaha bekerja keras namun masih kekurangan. Kalau kamu bagaimana?

NB : Mohon maaf sering menggunakan kata “dulu” karena sebenarnya sudah lama tema ini ingin saya bahas sampai lupa sumbernya inspirasinya dari mana saja :)

 

Komentar

Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar Please login to post comments or replies.