SAYA DAN PENGALAMAN MUDIK MENGGUNAKAN KENDARAAN UMUM

E-mail Cetak PDF

Pada tulisan Mengapa mau “tersiksa” karena mudik, saya sempat mengatakan geleng-geleng kepala (melihat perilaku para pemudik) terutama para pemudik yang membawa anak-anak yang masih kecil dan juga bayi, terlebih lagi mereka mengendarai motor pada saat lalu lintas sedang mengalami puncak kepadatan. Mungkin kata-kata tersebut terkesan saya tidak memahami situasi dan kondisi mereka (dengan segala keterbatasan kemampuannya) karena tidak pernah melakukan perjalanan pulang kampung saat menjelang lebaran atau saya tidak menyukai kegiatan mudik.

Anda salah jika berfikir seperti itu karena sejak kecil saya sudah terbiasa melakukan mudik setiap tahun bersama orangtua untuk mengunjungi kakek-nenek dikampung halaman mereka. Hanya saja saya kurang setuju apabila ada orangtua yang terlalu “memaksakan” perjalanan mudik ketika kondisi sedang padat padahal sebenarnya kita masih bisa menunda perjalanan mudik untuk 1 atau 2 hari kedepan. Atau jika memungkinkan, kita dapat melakukan perjalanan mudik tersebut beberapa hari sebelum terjadi puncak kepadatan arus lalulintas, hanya saja ini berlaku bagi mereka yang memiliki waktu kerja fleksibel dan diijinkan untuk cuti sebelum dan sesudah libur resmi diluar cuti bersama.

Kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya melakukan mudik bersama orangtua saat masih usia sekolah. Bapak saya berasal dari Wates, Yogyakarta sedangkan ibu dari Wonosobo, Jawa Tengah. Sejauh ingatan saya, setiap tahun pada saat menjelang lebaran kami melakukan kegiatan mudik menggunakan bis atau kereta, hanya saja kami lebih banyak menggunakan bis karena biasanya tujuan pertama kami adalah Wonosobo, baru ketika kembali kadang naik kereta dari Wates.

 

Jaman dulu, dengan kondisi ekonomi orangtua yang biasa saja (karena hanya bapak yang bekerja), jangan dikira kami naik bis eksekutif dengan AC yang dingin ataupun kursi berisi 2-2 yang sandarannya bisa digerakkan kebelakang dan memiliki tempat untuk sandaran kaki. Mudik pada saat saya masih kecil bisa dibilang lebih “sadis” dari pada sekarang karena selain mengantri karcis (dan bisa tertipu calo) dan berdesak-desakan untuk menaiki bis dan kereta. Penumpang juga rela berdiri demi bisa terangkut oleh bis (silahkan membayangkan jika kita berdiri dari Jakarta ke Wonosobo yang berjarak sekitar 473 km yang ditempuh sekitar 8 jam perjalanan dalam kondisi lancar) dalam kondisi benar-benar berdiri karena bis dengan kapasitas 50-60 orang terpaksa diisi 100 orang (kira-kira seperti Metro Mini pada saat padat penumpang di pagi hari).

Hal terparah yang harus saya alami pada saat mudik menggunakan bis adalah ketika saya harus ke toilet. Saat itu bis sedang berhenti ditempat pemberhentian atau tempat makan langganan bis tersebut. Sebenarnya kenek sudah mengingatkan untuk tidak turun karena mereka hanya sekedar mau lapor diri dan bukan hendak beristirahat. Saat itu puluhan bis dari berbagai daerah sedang berhenti disana. Namun karena saya sudah tidak bisa menahan BAK maka ibu saya nekat turun membawa saya dan kakak untuk ke toilet tapi sempat meminta penumpang lain untuk memberitahukan supir dan kenek untuk menunggu kami. Hanya saja karena terburu-buru, ibu tidak sempat melihat atau mencatat nopol bis tersebut dan kebetulan bis tersebut sudah memindahkan posisi bisnya. Ibu sempat bingung dan panik karena khawatir ditinggal dalam kondisi membawa 2 anak perempuan sendirian (karena bapak bekerja, biasanya menyusul setelah waktunya libur) dan saat itu sudah malam, apalagi barang-barang masih tertinggal di bis.

Alhamdulillah ternyata si kenek mencari-cari kami tetapi sambil marah-marah, namun karena ibu adalah orang yang tidak suka disalahkan akhirnya justru kenek tersebut yang gantian dimarahi. Pada saat kami menaiki bis lagi, kami sempat disoraki oleh penumpang lain, namun lagi-lagi ibu justru kembali memarahi orang-orang yang ada di dalam bis dan memberi alasan dari pada anak saya mengompol dibis hahahaha ibu ku hebat... Kejadian lainnya adalah saya terpaksa harus BAK di tengah sawah karena saat itu kondisi jalan sangat padat bahkan sama sekali tidak bergerak padahal bis sudah beberapa jam di posisi tersebut.

Demikian juga dengan kereta, belum adanya pembelian tiket dengan sistem online menyebabkan kita harus mengantri untuk mendapatkan tiket, itu pun biasanya sudah “habis terjual” dan akhirnya harus membeli dari calo dengan harga yang lebih mahal. Sama halnya dengan bis, kereta pun diisi dengan jumlah penumpang yang melebihi kapasitas seharusnya, saya kurang tahu apakah ketika membeli karcis sudah tertera nomor tempat duduknya atau penumpang harus berebutan untuk mendapatkan kursi karena sering terlihat di televisi, banyak penumpang yang naik kereta melalui jendela dan banyak anak-anak serta barang bawaan yang dimasukkan lewat jendela (silahkan membayangkan sendiri jika belum pernah melihat atau mengalaminya).

Berbeda dengan bis, di kereta kita tidak harus berdiri dan masih bisa “duduk” disepanjang jalan lorong disetiap gerbong bahkan ada juga yang rela duduk didekat toilet yang wanginya sangat semerbak (cerita seorang teman yang punya pengalaman duduk dekat toilet kereta hehehehe...). Meskipun bisa duduk, namun jangan harap kita bisa tidur karena kereta ekonomi yang biasa kami naiki akan berhenti disetiap stasiun yang dilalui dan ketika berhenti, banyak pedagang yang lalu lalang menawarkan dagangannya dengan melewati orang-orang yang duduk dilorong hiks... kita juga harus waspada karena seringkali terjadi penjambretan barang bawaan padahal tas atau barang tersebut disimpan ditempat barang yang berada diatas tempat duduk.

Kira-kira seperti itulah gambaran situasi dan kondisi yang kami jalani saat mudik yang berulang setiap tahunnya namun entah kenapa orangtua selalu melakukan perjalanan mudik setiap lebaran tiba, mungkin salah satu alasannya ada di dalam tulisan saya sebelumnya.

Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, biasanya kami berlebaran di Wonosobo dan juga Wates. Setelah shalat Idul Fitri dan bersalaman dengan tetangga dan keluarga disana (kebetulan kakek saya adalah anak pertama sehingga saudara yang lain akan datang ke rumah kakek saya) biasanya kami ke Wates. Perjalanan Wonosobo - Wates kami tempuh dengan kendaraan umum dan berganti bis saat di Purworejo. Petualangan pun dimulai kembali...jalan yang dilalui dari Wonosobo menuju Purworejo merupakan jalan yang berliku-liku dan berkelok-kelok (hehehehe sama saja ya) dan biasanya saya cenderung tidak sanggup menahan mual dan biasanya muntah. Namun jika saya buat tidur maka hal tersebut tidak akan terjadi.

Sesampainya kami diterminal Purworejo, kami turun dan berganti bis yang menuju arah Yogyakarta melalui Wates. Saat itu bis masih jarang sehingga kami harus menunggu dulu dan ketika bis datang kami pun harus berebutan dengan penumpang lain. Jika kami kembali ke Jakarta melalui Wonosobo maka kami akan kembali dengan cara sama...luar biasa hahahahaha.

Namun ada satu hal yang saya sadari sekarang...tanpa disengaja, mudik dengan cara “menyiksa” tersebut membentuk saya menjadi perempuan tangguh, perempuan yang sanggup melintasi perjalanan dengan segala kondisi (hahahaha terlalu lebay ya...). Namun bukan tanpa alasan saya mengatakan hal itu. Selain setiap hari saya menjadi penglaju, manfaat lain dari perjalanan mudik tersebut adalah pada akhirnya saya mampu menahan rasa mual dan keinginan untuk muntah ketika melewati jalan pegunungan yang berkelok-kelok. Saya juga sanggup melakukan perjalanan darat lebih dari 8 jam meskipun jalan yang dilalui dalam kondisi rusak berat. Hal itu sering saya alami ketika saya sedang melakukan perjalanan dinas diluar pulau Jawa.

Dilain waktu akan saya ceritakan perjalanan saya dari Banda Aceh menuju Lhokseumaweh, Medan menuju Danau Toba atau Makassar menuju Tana Toraja serta dari Bengkulu hingga ke Muko-muko. Bagi yang sudah pernah merasakan salah satu jalan tersebut, mungkin akan tahu perjalanan tersebut lumayan berat dan menyiksa bagi mereka yang tidak terbiasa. Bagi yang merasa biasa saja...selamat anda benar-benar tangguh.

Terakhir, saya tetap tidak menyarankan bagi pemudik yang mengendarai motor dengan membawa anak kecil dan bayi melakukan perjalanan pada saat volume kendaraan sedang padat karena itu sangat membahayakan keselamatan keluarga anda apalagi ditambah dengan membawa barang yang banyak. Lebih baik bersabar sedikit dengan menunda keberangkatan anda ketika akan mudik. Selalu waspada dan hati-hati dijalan serta mentaati peraturan lalulintas. Segera beristirahat ketika anda lelah dan mengantuk.

Selamat mudik dan berkumpul bersama keluarga J

 

 

 

 

 

Komentar

avatar Narayana
0
 
 
Pernah punya pengalaman yg sama, waktu itu saya umur 4 tahun. Pulang mudik naik kereta ekonomi. Desek2an pas mau masuk kereta. Akhirnya bapak masuk duluan..cari tempat duduk dan saya dimasukkan lewat jendela (udah kayak barang bawaan) X_x
Alhamdullilah saya bersama keluarga mudik tahun ini ketempat keluarga mempergunakan taksi..yang penting bisa sampai.
avatar rezkypratama
0
 
 
mudik enak naek kereta,hehehe
Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar Please login to post comments or replies.