MELESTARIKAN WARISAN BUDAYA MELALUI PAGELARAN MANGKUNEGARAN PERFORMING ART 2011

E-mail Cetak PDF

Saat ini, perkembangan teknologi dan informasi sudah sedemikian cepat, hal tersebut membawa dampak positif dan juga negatif. Salah satu dampak positif yang dapat dirasakan adalah kita dapat memperoleh informasi diseluruh penjuru dunia dengan cepat sehingga informasi yang kita terima selalu up to date. Sedangkan dampak negatif yang muncul adalah semakin mudahnya masyarakat terutama kaum muda dalam mengakses pornografi. Seperti kita ketahui, pornografi menjadi momok menakutkan yang dapat merusak moral generasi muda kita selain narkoba.

Perkembangan teknologi dan informasi juga dapat memudahkan kita saling bertukar kebudayaan dengan bangsa lain. Namun, adakalanya hal tersebut menjadikan kita kehilangan jati diri bangsa karena mayoritas generasi kita lebih menyukai kebudayaan barat yang lebih dianggap modern, keren dan tidak terlalu banyak aturan. Untuk itu diperlukan sosialisasi secara terus menerus kepada generasi muda agar mereka lebih mencintai kebudayaan sendiri dari pada kebudayaan bangsa lain yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai yang berkembang dinegara kita.

Pagelaran Mangkunegaran Performing Art yang diadakan di Pendopo Pura Mangkunegaran menjadi salah satu upaya pelestarian budaya tradisi Mangkunegaran kepada masyarakat Solo khususnya dan masyarakat luas (turis domestik dan mancanegara) pada umumnya karena pagelaran ini juga bertujuan untuk mempromosikan Solo sebagai kota wisata. Pagelaran tersebut terselenggara atas kerjasama Dinas Pariwisata Kota Solo dengan pihak Pura Mangkunegaran yang akan dilaksanakan selama 2 (dua) malam yaitu pada hari Jum’at dan Sabtu, tanggal 20-21 Mei 2011 di Pendopo Pura Mangkunegaran. Pagelaran ini dibuka untuk umum dan bebas biaya masuk alias gratis.

Pagelaran Mangkunegaran Performing Art ini secara resmi telah dibuka oleh Bapak GPH Herwasto Kusumo dari pihak Pura Mangkunegaran dan Bapak Purnomo Subagyo selaku Kepala Dinas Pariwisata Kota Solo pada Jum’at malam tanggal 20 Mei 2011 sekitar pukul 19.00 waktu setempat.

Pada malam pertama pagelaran Mangkunegaran Performing Art, ada 4 (empat) seni tari yang disajikan sebagai hiburan bagi para pengunjung, yaitu : Tari Gambyong Pareanom, Tari Srimpi Pandelori, Tari Wireng Narayana – Kalakresna dan Tari Bregodo Pareanom. Sedang untuk hari kedua yakni tgl 21 Mei 2011 akan dipentaskan tiga tarian, yaitu Tari Gambyong Solo Minulyo, Bedayan Jati Kumandang dan Wayang Remaja Putro Nata Manduro. Bagi anda yang tertarik untuk menyaksikan acara ini bisa langsung datang ke Pendopo Puro Mangkunegaran pukul 19.00 WIB.

Berikut ini akan saya jelaskan secara sepintas mengenai tari-tarian yang telah dipentaskan pada hari pertama pagelaran Mangkunegaran Performing Art, yaitu :

Tari Gambyong Pareanom

Beksan Gambyong Pareanom pada awalnya merupakan tarian penyambutan tamu namun berkembang menjadi tarian hiburan. Adanya pergeseran tersebut maka tari Gambyong Pareanom Mangkunegaran yang sekarang ini disaksikan telah diwirengkan dimana pada awalnya kostum yang dikenakan menggunakan kemben namun sekarang kostum yang dikenakan adalah mekak dengan memakai jamang. Untuk warna kostum disesuaikan dengan namnya Pareanom adalah hijau kuning.

Tarian ini berkembang pada masa pemerintahan Mangkunagoro VII. Sajian ini ditarikan oleh 7 (tujuh) penari putri dari Langenpraja Puro Mangkunegaran.

Tari Srimpi Pandelori

Beksan Srimpi Pandelori menceritakan peperangan Sang Dyah Sirtupelaheli yaitu putri dari Sri Karsinah yang digambarkan sedang naik burung garuda melayang diangkasa dengan tujuan mencari keberadaan suaminya Sang Ambyah yang dipenjara oleh Prabu Kanyun di Parangakik.

Sedangkan di kerajaan Parangakik sendiri, adik dari raja Parangakik yang bernama Kusuma Sudarawerti ingin menolong Sang Ambyah dari penjara walaupun ditentang kakaknya. Namun ia berusaha sekuat tenaga karena dalam mimpinya, Sudarawerti merasa ada wangsit bahwa Sang Ambyah akan menjadi suaminya. Pada akhirnya memang terjadi pernikahan antara Kusuma Sudarawerti dan Sang Ambyah setelah Sang Ambyah dikeluarkan dari penjara.

Sebenarnya Sang Ambyah masih resmi menjadi suami Sang Dyah Sirtupelaheli sehingga ketika Sang Dyah Sirtupelaheli bertemu dengan Kusuma sudarawerti terjadilah peperangan itu. Namun, peperangan yang terjadi antara keduanya tidak dimenangkan oleh salah satu pihak sehingga pada akhirnya semua mengakui dan menyetujui untuk berdamai serta menerima Sang Ambyah menjadi suaminya bersama.

Tari ini berkembang di Pura Mangkunegaran pada Pemerintahan Sri Paduka Mangkunagoro V. Sajian ini ditarikan oleh 4 (empat) penari putri dari Langenpraja Puro Mangkunegaran.

Tari Wireng Narayana – Kalakresna

Tari ini disebut juga Wireng Mondro Kesowo yang menceritakan tentang Narayana pada saat dirinya melamar Dewi Rukmini. Dewi Rukmini bersedia diperistri Narayana dengan syarat Narayana harus menjadi seorang Raja. Kemudian Narayana meminta saran dari gurunya yaitu Begawan Patmonobo. Narayana disarankan untuk melawan Prabu Kalakresna dari Kerajaan Dwarawati. Begawan Patmonobo memberikan sebuah senjata kepada Narayana berupa busur panah bernama Kyai Kesowo untuk melawan Prabu Kalakresna. Akhirnya terjadi peperangan antara Narayana dan Prabu Kalakresna yang dimenangkan oleh Narayana. Pada saat kemenangan Narayana, turunlah Bethara Narada. Narayana disuruh memakai mahkota Prabu kalakresna dan diberi nama Prabu Kresno serta diangkat menjadi Raja di Kerajaan Dwarawati dengan permaisuri Dewi Rukmini.

Tarian ini merupakan ciptaan dari GPH. Herwasto Kusumo. Ditarikan oleh 2 (dua) orang putra dari langenprojo Pura Mangkunegaran.

Tari Bregodo Pareanom

Bregodo Pareanom adalah sebuah simbol prajurit atau pasukan perang wanita yang disebut “SINELIR” yang merupakan hasil panggulo wentah Raden Mas Said dan Matah Ati dengan ciri khas busana “kuning hijau” sebuah karya tari mengenai spirit yang ditafsirkan secara bebas.

Saling membantu dan dibantu, saling memberi dan menerima, dan saling dilengkapi dalam sebuah tembang yang dilantunkan dalam benih-benih mutiara kehidupan yang menggambarkan “LAKU” Raden Mas Said dalam upaya mewujudkan cita-cita luhur untuk menuju tatanan yang lebih baik.

Penanggung Jawab : Supriyanto, SE
Sutradara : Winarto, S.Sn, S.Pd
Penata tari : Eko Wahyu Prihantoro, S.Sn, M.Sn & Agung Kusumo Widagdo, S.Sn
Ide cerita : Edy Sulistiono, S.Sn
Penata Kostum : Purwanto, S.Sn
Tim Kreatif : Agung K. Widagdo, S.Sn; Eko W. Prihantoro, S.Sn & winarto, S.Sn, S.Pd
Tim Produksi : Purwanto, S.Sn & Galuh
Produksi : Jurusan Seni Tari Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

Selain penampilan kesenian yang telah dijelaskan diatas, diadakan juga bazaar makanan khas Istana Mangkunegaran, yakni makanan-makanan yang disukai raja-raja seperti garang asem bumbung dan sega golong. Selain itu, tersedia juga wedang jahe, kue pondoh dan juga apem mangkunegaran.

Sedikit tambahan informasi, saat ini juga tengah diselenggarakan Pekan Informasi Nasional (PIN) pada tanggal 20-24 Mei di Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir. Sutami 57, Solo.

 

http://pin.blog.uns.ac.id/2011/05/21/artikel-50-finalis-blog-contest-pin-2011/

Komentar

Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar