AJARKAN ANAK ANDA BERSYUKUR SEJAK KECIL (Bagian 2)

E-mail Cetak PDF

Pada tulisan sebelumnya (bagian 1), saya sudah menyampaikan beberapa hal yang harus di syukuri oleh Endry. Tulisan kali ini akan menampilkan beberapa hal lainnya yang bisa dijadikan bahan untuk Endry bersyukur dengan cara membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Beberapa orang mungkin akan mengatakan jangan terlalu membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, namun menurut saya kalau itu bisa memotivasi (membandingkan diri dengan orang yang lebih atau diatas kita) dan bisa menumbuhkan rasa syukur (membandingkan diri dengan orang yang dibawah kita) kepada Tuhan mengapa tidak dilakukan?

Seperti telah disebutkan pada tulisan sebelumnya, ketika kita melihat orang dengan keterbatasan fisik dapat melakukan hal luar biasa, kenapa kita dengan kondisi fisik yang sempurna tidak? Seharusnya kita malu ketika kita yang memiliki fisik sehat namun masih sering mengeluh dan selalu merasa kekurangan, bahkan ada juga yang sampai menjadi pengemis...miris bukan?

 

Berikut ini adalah hal-hal yang juga sering saya ingatkan kepada Endry untuk selalu bersyukur :

Sekolah

Banyak anak pintar namun kurang beruntung karena tidak bisa mengenyam pendidikan formal di sekolah. Meskipun saat ini sekolah negeri sudah gratis dan memprioritaskan anak-anak dari keluarga kurang mampu namun masih ada kemungkinan terdapat biaya-biaya tertentu yang tetap harus dikeluarkan.

Selain itu, banyak orang tua yang masih menganggap pendidikan tidak penting sehingga mereka harus bekerja membantu orang tuanya mencari nafkah karena “urusan perut” dianggap lebih penting dari pada pendidikan. Hal ini menyebabkan anak-anak tersebut tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk sekolah.

Sama halnya ketika memperhatikan kehidupan anak jalanan, kami juga mengingatkan Endry karena memiliki kesempatan untuk sekolah dan bisa mengenyam pendidikan di sekolah sehingga dia harus memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya dalam mengejar ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum karena Endry bersekolah di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) dan ikut TPQ di mushalla perumahan.

Fasilitas

Terkait dengan sekolah, saya sering mengingatkan Endry untuk bersyukur karena pergi ke sekolah menggunakan kendaraan dan di antar jemput oleh ojek langganan, karena di tempat lain ada anak-anak yang bersekolah dengan berjalan kaki padahal jarak antara rumah dan sekolah sangat jauh. Ada kalanya jalan yang dilalui bukanlah jalan aspal yang bagus namun jalanan yang masih berupa tanah, melewati sawah dan kadang harus menyebrangi sungai dimana jembatan penyebrangannya pun hanya seadanya saja. Tetapi anak-anak tersebut tetap bersemangat untuk bersekolah.

(Baca : https://www.investigasi.co/demi-menuntut-ilmu-bocah-sd-di-pangkep-jalan-kaki-lewati-gunung-ke-sekolah/

https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/pr-01324942/masih-ada-pelajar-sd-yang-bertaruh-nyawa-menyeberang-jembatan-bambu-reyot-demi-bisa-sekolah

https://rencongpost.com/siswa-sd-di-aceh-ke-sekolah-harus-lewati-sungai-deras/)

Mereka juga belum tentu memiliki peralatan dan perlengkapan sekolah yang memadai, sedangkan Endry memilikinya (seperti buku-buku baik buku pelajaran dari sekolah maupun buku tambahan seperti kamus 3 bahasa dan buku doa-doa; alat tulis; akses internet (WiFi di rumah); dll). Bahkan untuk kegiatan ekstrakulikuler panahan, Endry memiliki peralatan memanah sendiri dan memanggil pelatih untuk mengajarinya di rumah.

Tinggal dirumah yang nyaman

Ketika sedang menonton berita tentang orang-orang yang mengungsi akibat bencana alam ataupun perang, saya sering mengatakan kepada Endry bahwa dia harus bersyukur karena tinggal dirumah yang bersih, nyaman dan aman sehingga bisa beraktivitas dengan tenang.

Orang-orang yang tinggal di tenda pengungsian harus tidur beramai-ramai dengan alas yang seadanya, mandi harus mengantri dan belum tentu mendapatkan air bersih. Kehidupannya menjadi tidak bebas seperti ketika di rumah sendiri karena harus berbagi tempat. Selain itu, belum tentu mereka bisa tidur dengan nyenyak karena tempatnya sempit, tidak ber-ac dan mungkin terganggu oleh suara mendengkur orang lain ataupun nyamuk.

Makanan

Sama halnya dengan rumah, orang-orang yang mengungsi tidak bebas untuk makan karena harus menunggu kiriman makanan dari dapur umum dan mungkin sudah dalam kondisi dingin, tidak bisa memilih menu yang disukai apalagi menambah makanan karena banyak orang ingin dan butuh makan juga sehingga mereka harus mau berbagi. Apapun yang dimasak, suka tidak suka harus dimakan jika tidak ingin kelaparan karena biasanya mereka tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

Endry harus bersyukur karena ketika bangun tidur sudah ada makanan yang disiapkan untuk sarapan dan bekal untuk dibawa ke sekolah. Setiap hari Endry ke sekolah membawa bekal nasi beserta lauk plus susu, dia tidak di bawakan uang jajan karena kami khawatir kalau Endry jajan sembarangan di sekolah yang belum tentu terjamin kebersihannya. Namun kami siapkan roti, cemilan / snack dan susu di dalam kulkas dan kadang eyangnya membuatkan kue-kue seperti donat, onde-onde dan juga gorengan seperti pisang goreng, tahu bakso, bakwan, dll.

Sebenarnya masih banyak hal lainnya yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak untuk mau bersyukur, namun akan dibahas apabila saya sudah mendapatkan inspirasi lagi hehehehe...

Demikian tulisan kali ini, semoga bermanfaat :)

 

Komentar

Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar Please login to post comments or replies.