MEMOTRET PEMBANGUNAN INDONESIA DI BIDANG PARIWISATA

E-mail Cetak PDF

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, baik besar maupun kecil. Pada era globalisasi seperti sekarang ini serta didukung oleh perkembangan teknologi dan alat komunikasi yang semakin canggih, dunia seolah tidak lagi terbatas. Manusia dengan mudah berpindah dari tempat yang satu ke tempat lainnya.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa indah, baik di darat maupun perairan. Dengan beragam suku bangsa dan budaya yang menjadi nilai lebih untuk menjadi pusat pariwisata baik di wilayah Asia Tenggara maupun Dunia.

Indonesia memiliki keaneragaman daya tarik pariwisata, baik dari keragaman budaya, alam, peninggalan sejarah ataupun kuliner. Berikut ini diuraikan beberapa kekayaan dan daya tarik wisata di Indonesia :

 

 

1. Budaya, beragamnya daerah, suku, bahasa, agama dan tradisi di Indonesia merupakan daya tarik pengembangan bagi wisata budaya.Kita mengenal dari Pendet dari Bali, Tari Saman dari Aceh, Tradisi Lompat Batu di Nias, upacara adat pemotongan kerbau di Tana Toraja dan lain-lain.

2. Alam, terletak di antara garis khatulistiwa, Indonesia memiliki iklim yang tropis. Indonesia memiliki jumlah pulau terbanyak di dunia yang menurut kajian citra satelit berjumlah 18.306 pulau, pulau yang sudah diberi nama ada 7.870 sedangkan yang belum diberikan nama berjumlah 9634 pulau[1]. Indonesia juga memiliki keragaman dalam flora dan fauna. Indonesia juga terkenal keindahan alamnya bahkan sampai ke manca negara, seperti Bali, Lombok, Raja Ampat di Papua, Bunaken di Manado dan lain sebagainya. Terkait dengan potensi alam Indonesia masih banyak yang perlu kembangkan, karena selain daerah yang sudah disebut masih banyak lokasi dengan panorama alam yang belum dikembangkan, seperti kepulauan Nias, Mentawai, dan daerah lainnya.

3. Peninggalan sejarah, beberapa kerajaan besar pernah berkuasa di nusantara sebut saja Kerajaan Majapahit, Sriwijaya dan Kutai Kertanegara yang memiliki peninggalan sejarah berupa bangunan terkenal misalnya saja Candi Borobudur dan Prambanan.

4. Kuliner, adanya keragaman budaya maka beraneka ragam pula kuliner yang ada di Nusantara. Berbagai resep makanan tradisional dari berbagai daerah menjadi kekayaan dan daya tarik wisata di Indonesia, antara lain rendang dari Padang, Sumatera Barat; kue atau makanan dari bahan baku sagu di Ambon, Maluku; Coto Makassar dari Sulawesi Selatan dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pariwisata merupakan salah satu sektor penopang perekonomian Indonesia. Dimana pariwisata turut menyumbang dalam pemasukan devisa, membuka lapangan kerja baru hingga ikut berperan pada pemerataan pembangunan. Namun sayangnya sektor pariwisata di Tanah Air belum menjadi idola. Terbukti pengembangan sektor pariwisata di Indonesia masih belum dilakukan secara serius. Dalam konteks sektor ekonomi, sektor pariwisata tidak dikategorikan secara khusus, karena sektor pariwisata merupakan gabungan dari berbagai sektor, yaitu sektor perhubungan/transportasi, perdagangan, sektor akomodasi dan perhotelan dan sektor telekomunikasi.

Oleh karenanya berbicara tentang pembangunan di sektor pariwisata tidak bisa dilepaskan dari pembangunan di sektor lainnya, perhubungan, komunikasi, perdagangan, hotel dan restoran. Sektor pariwisata tidak serupa dengan sektor lain, seperti pertanian, kehutanan, pertambangan, karena sektor pariwisata sangat terkait dengan sektor pendukung. Dengan demikian, pembangunan di sektor pariwisata dapat dikatakan sangat kompleks dan membutuhkan investasi yang bahkan lebih besar dari pada investasi untuk sektor lain.

Dalam prakteknya bahkan keberlangsungan dalam pembangunan sektor wisata juga dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar faktor ekonomi, seperti politik dan stabilitas keamanan. Sebagaimana kejadian Bom Bali, maka setelah peristiwa tersebut sektor pariwisata di Bali pun menurun drastis dan yang belum lama terjadi adalah adanya penyergapan teroris di daerah Poso, Sulawesi Tengah menyebabkan banyak wisatawan mancanegara membatalkan agendanya untuk melihat Gerhana Matahari Total (GMT) di Palu. Hal ini sangat disayangkan, mengingat ini merupakan kesempatan baik bagi Pemerintah Daerah Kota Palu untuk mempromosikan tempat wisata yang ada disana.

Kebijakan pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan sektor pariwisata.

Beberapa upaya yang sudah dilakukan oleh Pemerintah untuk meningkatkan sektor pariwisata di Indonesia, antara lain :

1. Mengeluarkan Kebijakan Pembebasan Visa bagi Wisatawan Mancanegara.

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kuantitas atau jumlah wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia adalah kebijakan pembebasan visa. Berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, visa merupakan keterangan tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang di Perwakilan Republik Indonesia atau ditempat lain yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk melakukan perjalanan ke wilayah indonesia dan menjadi dasar untuk pemberian izin tinggal. untuk itu wisatawan yang akan masuk ke Indonesia harus membayar biaya visa dan menjadi pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Namun kebijakan ini harus benar-benar diperhitungkan apakah pembebasan visa tersebut menambah atau menurunkan pendapatan negara.

2. Melakukan promosi melalui media cetak dan elektronik serta melakukan pameran di dalam dan luar negeri.

“Pesona Indonesia” menjadi tagline yang di gembar-gemborkan pemerintah dalam mempromosikan pariwisata di Indonesia. Untuk wisatawan domestik, saat ini banyak sekali tayangan pariwisata di stasiun televisi swasta sebut saja “My Trip My Adventure” yang sangat gencar mempromosikan tempat-tempat wisata di Indonesia dengan membawa serta “Pesona Indonesia” sehingga masyarakat menjadi tahu bahwa banyak tempat wisata menarik di Indonesia sehingga mereka tidak perlu keluar negeri.

Sedangkan promosi yang dilakukan untuk mempromosikan wisata Indonesia bagi wisatawan mancanegara, Pemerintah melakukan pameran wisata di luar negeri baik melalui event Internasional maupun melalui perwakilan Kedutaan Besar Indonesia di luar negeri.

3. Membuat agenda pariwisata seperti festival tahunan.

Event atau festival tahunan yang sudah dilakukan oleh beberapa Pemerintah Daerah cukup efektif dalam menarik kunjungan wisatawan baik dalam dan luar negeri. Wisata budaya digalakkan melalui event, seperti Dieng Culture Festival[2] di Wonosobo, Jawa tengah, Banyuwangi Festival[3], Festival Siti Nurbaya[4] di Padang, Sumatera Barat, Festival Bunga Internasional Tomohon[5] di Sulawesi Utara, Mangkunegaran Performing Art dan masih banyak lagi.

Tantangan Sektor Pariwisata Indonesia

Kondisi geografi dan kurangnya pemerataan dalam pembangunan, terutama infrastruktur, menjadi kendala utama pengembangan sektor pariwisata di Indonesia. Seperti diketahui, saat ini lokasi yang menjadi lokasi wisata yang sudah di kenal sampai manca negara di Indonesia masih sedikit. Selama ini wisatawan baik domestik atau mancanegara hanya mengenal Bali sebagai tempat wisata dan daerah lain seperti Yogyakarta meskipun saat ini Raja Ampat mulai terkenal dikalangan wisatawan. Sedangkan masih banyak lokasi-lokasi wisata di Indonesia yang sangat potensial harus mendapatkan perhatian untuk dikembangkan.

Wisatawan yang gemar surving selama ini hanya mengenal Bali, sedangkan ada lokasi lain seperti Mentawai memiliki panorama pantai dan ombak yang tidak kalah dengan Bali, bahkan untuk olah raga surving. Terkait keunikan budaya, masih banyak lokasi wisata selain Bali dan Yogyakarta yang memiliki keunikan budaya.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada daerah yang memiliki potensi wisata (baik dari segi budaya, alam, peninggalan sejarah ataupun kuliner) namun terasa kesulitan dalam pengembangannya, dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Ketersediaan infrastruktur

Infrastruktur merupakan faktor utama yang harus ada dalam pembangunan sektor pariwisata. Infrastruktur yang dimaksud adalah sistem pengairan, Jaringan komunikasi, fasilitas kesehatan, terminal pengangkutan, sumber listrik dan energi, system pembuangan kotoran/pembungan air, jalan raya dan sistem keamanan.

Pembangunan yang tidak merata menyebabkan ketersediaan infrastruktur, terutama yang berada di luar jawa memiliki infrastruktur (teruta jalan) yang kurang berkembang. Konsentrasi pembangunan di Jawa, membuat pembangunan di luar Pulau Jawa menjadi sangat tertinggal jauh.

2. Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi

Banyak lokasi wisata yang sangat potensial di Indonesia sulit dijangkau karena keterbatasan sarana dan prasarana transportasi. Bahkan masih ada lokasi wisata yang di Pulau Jawa, yang notabene memiliki ketersediaan transportasi yang cukup, masih sulit dijangkau karena prasarana transportasinya kurang memadai.

Pengembangan obyek wisata tidak bisa dilepaskan dari pembangunan prasarana transportasi karena pariwisata berhubungan dengan orang dan perjalanan. Dengan kondisi jalan yang kurang atau bahkan tidak memadai untuk ke lokasi obyek wisata menyebabkan pengunjung kurang berminat berkunjung.

3. Sumber daya manusia

Pembangunan sektor pariwisata tidak dapat dilepaskan dari sumberdaya manusia. Pariwisata sangat berhubungan dengan manusia, karena pariwisata merupakan kegiatan manusia yang melakukan perjalanan, menetap sementara di suatu obyek wisata. Oleh karenanya, suatu obyek wisata sangat membutuhkan sumberdaya manusia, baik dalam kuantitas/jumlah dan kualitas/mutu.

Pengembangan obyek wisata ditujukan untuk menarik jumlah kunjungan. Namun demikian, dilema dalam pengembangan obyek wisata karena di suatu lokasi masih memiliki penduduk yang sangat sedikit. Selain jumlah penduduk yang sedikit, umumnya kualitas masyarakat lokal masih rendah.

Dibeberapa daerah masih banyak masyarakat lokal yang belum memiliki kemampuan bahasa asing minimal bahasa Inggris padahal bahasa merupakan faktor penting dalam berkomunikasi. Sehingga masih sangat sedikit masyarakat yang berprofesi sebagai guide yaitu orang yang bisa mengantar dan menceritakan tentang tempat wisata yang sedang dikunjungi. Beberapa tempat wisata sejarah membutuhkan guide yang tidak hanya mampu berbahasa asing namun juga mampu menceritakan sejarah atau peristiwa yang terjadi ditempat itu.

4. Pengelolaan

Pembangunan sektor wisata membutuhkan investasi yang sangat besar dan berkelanjutan. Artinya, pembangunan sektor pariwisata harus secara terus menerus, mengikuti perkembangan dan permintaan pasar. Saya masih ingat, terakhir 15 tahun lalu saat mengunjungi Pantai Parangtritis belum banyak memiliki fasilitas, belum ada hotel berbintang hanya penginapan-penginapan kecil yang dikelola secara swadaya oleh penduduk sekitar. Namun kondisi Pantai Parangtritis saat ini jauh dari 15 tahun lalu. Penambahan fasilitas seperti taman bermain, penataan kios, serta beberapa hotel berbintang.

Pengalaman lain terkait pengembangan obyek wisata adalah pengembangan taman hutan rakyat (Tahura) Bunder yang berlokasi di Jalan Wonosari. Lokasi Tahura Bunder direncanakan menjadi obyek wisata alam tracking, namun kurangnya pengelolaan menyebabkan Tahura Bunder terbengkalai. Bebebrapa fasilitas yang sudah dibangun seperti, kios, taman bermain anak, dan lainnya kurang perawatan dan kosong tanpa pemanfaatan.

Dari dua contoh pengembangan obyek wisata tersebut, dapat diketahui bahwa aspek pengelolaan sangat penting dalam pembangunan sektor wisata. Kurangnya investasi dapat menyebabkan rencana pengembangan obyek wisata menjadi terhenti. Adanya kemauan dan keterlibatan masyarakat sekitar obyek wisata sangat penting dalam aspek pengelolaan.

5. Promosi

Pengembangan obyek wisata turut memerlukan kegiatan promosi. Kegiatan promosi ini merupakan aspek pemasaran yang penting dilakukan untuk mengangkat nama obyek wisata. Selama ini, kegiatan promosi obyek wisata jarang sekali dilakukan secara aktif. Pengunjung tertentu yang tertarik ke suatu lokasi wisata menjadi informasi melalui browsing di internet, bertanya kepada teman yang pernah berkunjung atau penduduk suatu daerah saat sedang berada di daerah tersebut tentang wisata apa yang menarik untuk dikunjungi.

Kegiatan promosi hendaknya dilakukan secara aktif, terstruktur mulai dari pihak pengelola, pemerintah daerah di mana lokasi obyek wisata tersebut ada bahkan sampai pemerintah provinsi pun harus turut serta. Rantai promosi pun harus dilakukan secara terstruktur memanfaatkan komunitas-komunitas pecinta wisata, travel agent, penyedia jasa perhubungan bahkan sampai kedubes untuk promosi secara internasional.

6. Koordinasi antar Pemerintah Daerah

Seperti telah disebut kan di atas, beberapa Pemerintah Daerah sudah melakukan agenda wisata tahunan hanya saja mereka belum saling berkoordinasi perihal waktu pelaksanaan. Misal saja pada bulan Agustus lalu, jika saya tidak salah ingat ada beberapa event yang dilaksanakan pada waktu yang hampir bersamaan yaitu Dieng Culture Festival di Wonosobo dan Lompat Batu di Nias. Kedua event tersebut memiliki keunikan sendiri sehingga sayang untuk dilewatkan namun karena event tersebut dilaksanakan pada waktu yang hampir bersamaan, wisatawan menjadi kesulitan apabila harus datang ke dua tempat itu sekaligus mengingat untuk menuju ke Dieng hanya dapat dilalui menggunakan transportasi darat, sehingga ketika wisatawan ingin juga berkunjung ke Nias, mereka harus menggunakan transportasi udara kemudian transportasi air sehingga memakan waktu yang tidak sedikit dan cukup melelahkan. Ada baiknya, agenda wisata tersebut di koordinasikan pada Kementerian Pariwisata sehingga wisatawan dapat mengunjungi berbagai event yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.

Kritik dan Saran untuk Sektor Pariwisata di Indonesia

Banyaknya lokasi wisata yang potensial di Indonesia, sayangnya belum semua obyek wisata yang potensial mampu dikembangkan secara maksimal. Konteks pembangunan sektor wisata yang kompleks karena melibatkan pembangunan di sektor lain menjadi hambatan sekaligus tantangan. Kentalnya pengaruh politik menjadi salah satu hambatan dalam pembangunan sektor wisata di suatu daerah. Kunjungan kepada daerah bahkan kepala negara di suatu daerah lokasi wisata yang potensial seringkali lebih berat muatan politisnya (sebagai sarana kampanye dan pencitraan) dibandingkan keinginan yang lebih besar untuk mengembangkan obyek wisata tersebut.

Pembangunan sektor pariwisata memerlukan keterlibatan semua pihak, dari masyarakat sekitar, investor dan pihak terkait, kepala daerah sampai kepala provinsi atau bahkan kepala negara. Masih banyak obyek wisata yang potensial tidak berkembang karena kurangnya keterlibatan dari semua elemen tersebut.

Perlu ditekankan pula adalah bahwa pembangunan sektor pariwisata merupakan investasi jangka panjang dan kerkesinambungan. Seringkali investasi yang dilakukan pada suatu obyek wisata di Indonesia ingin segera mengejar keuntungan. Akibatnya saat dana sudah banyak keluar namun belum ada keuntungan atau bahkan belum mencapai BEP (break event point) banyak investor mundur dan akibatnya pengembangan obyek wisata pun terhambat.

Mahalnya investasi di sektor wisata menyebabkan banyak lokasi obyek wisata tidak terurus. Rendahnya kualitas fasilitas pendukung, seperti toilet yang kotor, sampah yang beserakan, bahkan keamanan lokasi yang rawan. Kesadaran masyarakat pun terkait citra lokasi obyek wisata harus turut diperhatikan. Masyarakat yang mendirikan usaha di sekitar lokasi wisata tak jarang membedakan tarif antar pengunjung. Bila pengunjung lokal harga lebih murah dari pengunjung non lokal dan menaikan tarif harga yang terlalu tinggi pada pengunjung dari luar negeri (wisatawan mancanegara).

Selain mengedukasi masyarakat sekitar untuk sadar wisata, harus ada juga edukasi bagi para wisatawan untuk turut serta menjaga kebersihan lokasi wisata dengan membuang sampah di tempat sampah dan menerapkan hukuman bagi mereka yang kedapatan mencorat-coret bangunan, benda ataupun hal lain yang ada disekitar lokasi wisata..

 

Komentar

wah makin bangga sama indonesia
semoga bisa terus
Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar Please login to post comments or replies.